educationshare

With share, We solve everything

Dunia Pendidikan Sekolah Dasar

pada Desember 27, 2011

Mengenal Perbedaan Suku Bangsa Kurang Relevan dengan Perkembangan Anak SD Kelas I.
Oleh : Irwanto, A. Ma.

Sesuai pengertian awal KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing – masing satuan pendidikan. KTSP ini dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, dan standar penilaian serta rambu‐rambu penyusunan kurikulum yang telah disusun BSNP. Dari pengertian di atas berarti sekolah mempunyai kebebasan untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan acuan pengembangan KTSP.
Berkaitan dengan hal tersebut, pengembangan KTSP mempunyai berbagai acuan, salah satunya berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Hal ini bermaksud agar daerah mampu mengembangkan potensi – potensi yang ada di daaerahnya. Tetapi dalam pelaksanaannya ternyata KTSP yang disusun BSNP tidak disesuaikan dengan kondisi daerah.
Sebagai contoh, dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan kelas 1 terdapat Standar Kompetensi yaitu Menerapkan Hidup Rukun dalam Perbedaan, dengan Kompetensi Dasar yaitu Menjelaskan perbedaan jenis kelamin, agama dan suku Bangsa. Bila kita baca sepintas materi tersebut terbilang mudah, dan memang mudah untuk kita sebagai guru. Tetapi perlu kita ingat bahwa kita mengajarkannya kepada anak kelas 1. Apakah materi seperti itu telah sesuai? seharusnya kita perlu memperhatikan bagaimana tahap perkembangan anak kelas 1, bagaimana interaksi sosialnya dan bagaimana pengaruh lingkungannya.
Coba kita tengok pada tahap perkembangan kognitif anak Sekolah Dasar. Menurut Jean Piaget anak usia 7 sampai 11 tahun termasuk dalam tahap operasional. Tahap ini merupakan tahap dimana kemampuan berpikir logis baru mulai muncul, sehingga mereka dapat berpikir secara sistematis untuk memecahkan masalah. Namun masalah yang dihadapi merupakan hal yang kongkret dan benar – benar terjadi di lingkungannya.
Oleh karena itu, bila kita kaji materi tentang perbedaan suku bangsa yang ada di Indonesia merupakan materi yang mengada – ada bagi siswa Sekolah Dasar kelas 1 di daerah. Bagaimana tidak? seorang anak SD di pedesaan, setiap hari hanya bertemu dengan keluarga, teman sebaya, tetangga atau gurunya dapat mengenal suku – suku bangsa di Indonesia. Lingkungan pedesaan sebagai tempat tinggal ini merupakan lingkungan yang homogen, setiap orang mempunyai kebudayaan dan adat yang sama, bahkan hampir mempunyai agama yang sama pula. Dan bila kita mau berpikir lebih jauh, apakah mungkin seorang anak SD mampu mengenali Indonesia dengan detail, bahkan saat mereka ditanya agama yang mereka anut terkadang mereka masih bingung. Mereka belum tentu juga sering diajak bepergian oleh orang tua mereka. Dengan kata lain mereka belum mengenal lingkungan yang lebih luas selain lingkungan keluarga dan sekolah.
Memang benar tugas seorang guru adalah memberikan pengetahuan pada siswanya, namun perlu kita ingat bahwa kebutuhan anak SD kelas satu belum seluas itu. Bukankah ada pepatah yang mengatakan “saya mendengar, saya lupa. Saya melihat, maka saya ingat. saya melakukan, maka saya memahami.” dari pepatah tersebut dapat disimpulkan bahwa seorang anak pun bila hanya mendengarkan penjelasan guru tentang materi dipastiksn akan lupa, dan bila anak pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri dapat mengingat – ingat, serta anak mampu memahami bila anak telah melakukan hal yang berkaitan dengan materi.
Kemungkinan materi ini dapat terlaksana bila anak tinggal di lingkungan perkotaan. Keadaan lingkungan perkotaan yang heterogen memungkinkan anak lebih banyak berinteraksi dengan berbagai kebudayaan. Mereka dapat menemukan orang dengan latar belakang agama, bahasa, adat serta suku bangsa yang berbeda di lingkungan tempat tinggalnya. Dengan begitu seorang anak mampu memahami berbagai perbedaan kebudayaan dengan lebih mudah.
Oleh karena itu, saya meminta kepada tim – tim pengembang kurikulum untuk memperhatikan hal tersebut. Semoga materi yang diajarkan disesuaikan dengan potensi daerah dan benar – benar sesuai dengan kebutuhan siswa. Hal ini agar materi tersebut tidak membebani siswa dalam berpikir dan guru dalam mengembangkan materi. Sekian ulasan dari saya, dan semoga hal ini dapat bermanfaat bagi kemajuan pendidikan di tanah air tercinta.

Salam Bangkit.


2 responses to “Dunia Pendidikan Sekolah Dasar

  1. Lembaga Motivasi mengatakan:

    makasih infonya… :)

  2. ioirwan mengatakan:

    yuuppp,..
    setidaknya itulah yg terjadi di daerah pinggiran..
    bukannya kami tak mampu menyampaikan, tapi hal seperti itu mmg belum dibutuhkan oleh anak didik kami…
    salam bangkit utk pendidikan Indonesia ;)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: